Ikon HUT Kota Jakarta ke-495 tahun 2022 PNG
Ikon HUT Kota Jakarta ke-495 tahun 2022 PNG

Daftar Nama Jakarta Yang Pernah digunakan Hingga Sekarang

Daftar Nama Jakarta Yang Pernah digunakan Hingga Sekarang – Siapa sangka nama Ibukota Negara kita ternyata memiliki beragam nama yang berbeda. Mulai dari masa pra penjajahan sampai sekarang Jakarta memiliki nama resmi yang cukup berbeda loh. Ya, dilansir dari Jakarta.go.id. Sejak tahun 397 hingga sekarang, kota yang sekarang menjadi Pusat dari Negara Republik Indonesia memiliki beberapa nama diantaranya adalah Sunda Kelapa ,Batavia, Jayakarta, Jakaruta Tokubetsu Shi hingga Djakarta.

Bertepatan dengan hari lahirnya Kota Jakarta Tahun 2022 ke 495 yang jatuh pada tanggal 22 Juni 2022, kali ini bloggers akan membahas mengenai beberapa nama yang digunakan oleh Kota Metropolitan ini. Informasi ini bloggers rangkum dari beberapa sumber. Berikut ini adalah lengkapnya daftarnya

Daftar Nama Jakarta Yang Pernah digunakan Hingga Sekarang

Sunda Kelapa (397–1527)

Berlokasi di muara Sungai Ciliwung, Jakarta semenjak dulu memang dikenal sebagai salah satu kota Pelabuhan yang terkenal. Pada Masa itu, Jakarta merupakan salah satu Pelabuhan Kerajaan Sunda dengan nama Sunda Kelapa.

Pada saat itu, Sunda Kelapa atau Jakarta adalah salah satu daerah kekuasaan dari Kerajaan Sunda yang beribu kota di Dayeuh Pakuan Padjadjaran atau Pajajaran yang merupakan cikal bakal dari Kota Bogor. Menurut sumber Portugis, Sunda Kelapa adalah salah satu Pelabuhan yang dimiliki oleh kerajaan Sunda selain Pelabuhan Pelabuhan lainnya seperti pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, serta Cimanuk.

Jayakarta (1527–1619)

Sobat bloggers pastinya sudah tidak asing lagi dengan nama Jayakarta yang diperoleh karena Kemenangan Fatahilah merebut sunda kelapa dari tangan Portugis Bukan? Ya, Bangsa Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama kali menjejakan kaki di bumi Jakarta.

Baca Juga  Download Contoh Soal PPG Dalam Jabatan

Sekitar abad ke-16, Raja Sunda Surawisesa meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan Sunda.

Upaya permintaan bantuan Surawisesa kepada Portugis di Malaka tersebut diabadikan oleh orang Sunda dalam cerita pantun seloka Mundinglaya Dikusumah di mana Surawisesa diselokakan dengan nama gelarnya yaitu Mundinglaya. Namun, sebelum pendirian benteng terlaksana, Cirebon yang dibantu Demak langsung menyerang pelabuhan.

Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membumihanguskan kota pelabuhan dan membunuh banyak rakyat Sunda di sana termasuk syahbandar pelabuhan. Penetapan hari jadi Jakarta oleh wali kota Jakarta Sudiro pada 22 Juni 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada 1527.

Atas kemenangannya ini, Fatahillah kemudian mengganti nama sunda kelapa menjadi Jayakarta yang memiliki arti kota kemenangan. Selanjutnya, Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.

Batavia (1619–1942)

Kemudian pada akhir abad ke 16, Dimulailah kedatangan Belanda yang datang dan singgah di di Banten pada tahun 1596. Sedangkan Kota Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten.

Dan tidak lama kemudian, pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen yang merupakan Gubermur Jendral VOC berhasil menaklukan dan menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten. VOC kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

Pada masa colonial Belanda inilah Batavia berkembang menjadi kota yang besar dan penting. Dalam mengembangkan Batavia, VOC banyak mendatangkan budak budak yang berasal dari daerah lainnya seperi Bali, Sulawesi, Maluku, Tiongkok, dan pesisir Malabar, India.

Ada yang berpendapat bahwa pekerja perkeja inilah yang kemudian membentuk komunitas yang dikenal dengan nama suku Betawi. Dan pada waktu itu daerah Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.

Baca Juga  Budi Utomo – Latar Belakang, Tokoh, dan Tujuan

Dan jauh sebelum kedatangan para pekerja tersebut, sudah ada masyarakat Sunda yang tinggal di wilayah Jayakarta seperti masyarakat Jatinegara Kaum. Dan suku-suku dari etnis pendatang pada zaman kolonialisme Belanda membentuk wilayah komunitasnya masing-masing. Maka tidak mengherankan saat ini di Jakarta terdapat wilayah-wilayah bekas komunitas seperti Pecinan, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, serta Manggarai.

Jakaruta Tokubetsu Shi/Djakarta (1942–1945)

Mungkin sobat bloggers juga baru pernah mendengar Nama Jakarta yang satu ini. Dari Namanya saja sudah jelas bukan pada masa apa Nama Jakaruta Tokubetsu Shi? Ya benar sekali sob. Nama ini digunakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Masa pendudukan oleh Jepang di Indonesia dimulai pada 1942. Pada masa ini pemerintahan jepang mengganti nama Batavia menjadi Djakarta yang merupakan akronim dari Djajakarta. Dilansir dari  Jakarta.go.id, pergantian nama itu bertepatan dengan perayaan Hari Perang Asia Timur Raya, pada 8 Desember 1942. Nama lengkapnya adalah Jakarta Tokubetsu Shi yang memiliki  jauhkan perbedaan
untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II.

Akibat adanya pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki membuat pengaruh jepang melemah sehingga momen ini dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk melangsungkan Proklamasi Kemerdekaan. Dan seperti yang kita ketahui, Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.

Jakarta (1945-sekarang)

Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin gubernur.

Dan Soemarno Sosroatmodjo seorang dokter tentara adalah Gubernur Jakarta yang pertama. Pada saat itu, pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno. Selanjutnya, pada tahun 1961, status Djakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Soemarno Sosroatmodjo.

Baca Juga  Peristiwa Perlawanan terhadap Portugis Kelas 5 Tema 7

Dalam waktu singkat, sekitar 5 tahun penduduk Jakarta berlipat lebih dari dua kali. Pada saat itulah muncul berbagai kantung permukiman kelas menengah baru. Selanjutnya pemukiman ini berkembang seperti Kebayoran Baru, Cempaka Putih, Pulo Mas, Tebet, dan Pejompongan.

Sebagai pusat pemerintahan pada saat itu, pusat-pusat permukiman juga banyak dibangun secara mandiri oleh berbagai kementerian dan institusi milik negara seperti Perum Perumnas. Pada masa pemerintahan Soekarno, Jakarta melakukan pembangunan proyek besar antara lain Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal, dan Monumen Nasional (Monas).

Pada masa ini pula Poros Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman mulai dikembangkan sebagai pusat bisnis kota menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara. Laju perkembangan penduduk ini pernah coba ditekan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai “kota tertutup” bagi pendatang.

Namun, kebijakan ini tidak bisa berjalan dan dilupakan pada masa-masa kepemimpinan gubernur selanjutnya. Hingga saat ini, Jakarta masih harus bergelut dengan masalah-masalah yang terjadi akibat kepadatan penduduk seperti banjir dan kemacetan. Nah, itulah Daftar Nama Jakarta yang pernah digunakan mulai dari Sunda kelapa hingga nama yang kita kenal sampai sekarang yaitu DKI Jakarta.

Sumber: jakarta.go.id; pinterpandai.com

Baca Juga:

Link Download Ikon HUT Kota Jakarta ke-495 Tahun 2022 PNG
Twibbon HUT Jakarta Ke 495 dari Twibbic Yang Keren Abis
Link Twibbon HUT Jakarta 2022, Dirgahayu ke-495 Tahun!

Link Download Logo HUT DKI Jakarta ke-495 Tahun 2022 PNG

Leave a Reply

Your email address will not be published.