Kultum Ramadhan : Surat Dari Allah Bagi Hambanya

Berikut ini adalah sajian Kultum Ramadhan : Surat Dari Allah Bagi Hambanya yang disalin dari ceramah ustadz Nuzul Dzikri. Berikut sajiannya :

Kultum Ramadhan : Surat Dari Allah

Hadirin, kemarin kita sudah sampaikan doa yang paling sering Nabi panjatkan yaitu doa meminta kemantapan hati يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ, Berbicara tentang mengokohkan hati rasanya tidak komplit kalau kita tidak mengangkat sebuah doa yang menjadi pasangan dari doa kemarin. Ketika para ulama membahas ayat ini mereka membawakan doa ini sebagaimana dalam tafsir Ath-Thobari dan Al-Qurthubi serta Ibnu Katsir.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. – Qs. Al-Imran: 8

Inilah doa yang hendaknya kita panjatkan di malam-malam ini, kita meminta agar Allah tidak menggelincirkan hati kita. Tapi, sebagaimana kita ketahui bahwa doa tu tidak memiliki power tanpa ada kemantapan hati kita.

رَبَّنَا Artinya “Wahai Rabb kami.” Pelajaran pertama, Rabbana atau Rabbi itu sering sekali menjadi awal dari setiap doa-doa kita. Itulah yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an. Para ulama berkata, “Rabb adalah nama Allah yang paling cocok untuk digunakan tawasul saat kita berdoa karena arti rabb secara umum; Pencipta, Pengatur, Pemilik.” Jangan pernah meremehkan nama Allah, dan Allah berfirman, “Berdoalah dengan nama-nama Allah.”

Ketika Allah mengajarkan sebuah doa didalam Al-Qur’an itu langsung tidak pakai Ya Rabbana atau Ya Rabbi itu ada pesan. Syaikh Sholih Al-Ushaimi menjelaskan, “Allah itu dekat.”

Baca Juga  Langkah-Langkah Membuat Gambar Cerita Kelas 5 Tema 2

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Dan kata-kata Ya untuk sesuatu yang jauh. Ketika kita berdoa Ya Rabbana rasakan bahwa Allah itu dekat dan Allah akan merespon.

Pelajaran kedua, yang berdoa seperti ini adalah ulama yang kokoh karena ayat sebelumnya itu tentang mereka. Kalau ulama yang ilmunya hebat masih berdoa seperti ini dan memang itulah polanya yang benar masa kita tidak berdoa dengan doa ini, sudah kepedean dengan iman kita, sudah merasa mantap sehingga tidak akan mungkin tergelincir. Jangan berfikir ketika kita sudah beribadah di malam sebelumnya, jangan berfkir kita mendapatkan garansi istiqomah berbadah sepuluh malam terakhir penuh, terlalu pede akhirnya blunder.

قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا “janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,” Dikatakan oleh istri tercinta beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).

Pelajaran ketiga, Jangan pernah merasa aman. Karena beribadah dimalam-malam berikutnya tidak menjadikan kita tetap istiqomah bisa semangat yang sama maka mintalah pertolongan kepada Allah

Baca Juga  Apa Saja Keutamaan Bulan Ramadhan

وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً “dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau;” Para ulama kita mengatakan, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Al-Qurthubi, “Rahmat itu berasal dari sisi Allah bukan karena kehebatan kita.” Ini menunjukan bahwa rahmat itu berasal dari sisi Allah, jangan pernah bangga karena kita bisa hebat karena rahmat dari sisi Allah. Para ulama berkata, “Berikanlah kami rahmat dari sisimu semata-mata karena karunia-mu dan kebaikan-mu bukan dari sebab amal-amal dan kebaikan kami.” Orang yang keluar dari ramadhan yang benar maka semakin bertauhid, semakin yakin bahwa semua itu pemberian dari Allah. Kita setiap hari membaca, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.” Mendapatkan kasih sayang Allah lebih baik daripada mendapatkan harta. Kalau dikasih harta oleh Allah bisa jadi itu istidraj ketika kita mendapatkan kasih sayang dan rahmat Allah sakitpun nikmat, miskinpun bahagia.

إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ “karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” Jangan pernah berharap kepada makhluk, karena Allah itu adalah zat yang Maha Pemberi.

Wallahu a’lam bish-showwab Demikian tadi ringkasan Kultum Ramadhan : Surat Dari Allah Bagi Hambanya yang dibawakan oleh ustadz Nuzul Dzikri. Semoga bermanfaat bagi sobat semuanya dan menambahs semangat sobat semua dalam menjalankan ibadah puasa ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *